10 Hal yang perlu Diperhatikan agar Urusan Pembaruan (Update) Status Tidak Merugikan Kita di Hari Kiamat


1.      Tersebut dalam pembukaan (mukadimah) shahih Muslim bahwa Rasulullah SAW
bersabda : <>. Oleh karena itu, jangan publikasikan kecuali hadits yang engkau ketahui kesahihannya, agar tidak terkena ancaman hadits ini.

2.      Tersebut dalam shahih Muslim : <>, oleh karena
itu, berhati-hatilah, jangan sampai mempublikasikan pesan apa pun yang berisi pelecehan atau penghinaan seseorang, atau suku, atau ras, marga, … meskipun dengan maksud lelucon atau membuat tertawa.

3.      Tersebut dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim bahwa Ummu Juraij pernah memanggil Juraij, lalu si Juraij tidak segera merespon panggilan ibunya itu, lalu sang ibu mendo’akan buruk si Juraij, dan terkabulkanlah do’a sang ibu seketika, padahal waktu itu kesibukan si Juraij adalah karena ia sedang shalat. Imam Nawawi menyimpulkan satu pelajaran penting dari cerita si Juraij itu bahwa seorang anak berkewajiban merespon panggilan bapak ibunya, dan itu respon ini hendaklah didahulukan, meskipun dengan mengorbankan shalat sunnat.
Oleh karena itu, janganlah urusan pembaruan (update) status mengalahkan birrul
walidain, betatapun “sibuk”-nya kamu dengan urusan status itu.

4.      Tersebut dalam shahih Muslim : <>, oleh karena itu, jika sampai kepadamu informasi tentang keburukan seseorang, hapus dan buanglah informasi itu dan jangan disebarkan, agar engkau beruntung mendapatkan ganjaran dari Allah SWT yang berupa tertutupinya keburukanmu di dunia dan di akhirat.

5.      Tersebut dalam shahih Bukhari : <>, adduuhhh… betapa banyaknya isu-isu bohong tersebar di zaman ini, khususnya di era di mana orang tidak
lagi melakukan “cross check” (periksa silang), adduuuhhh..betapa banyaknya nama-nama
palsu di dunia maya… oleh karena itu, ikutilah manhaj Al-Qur’an : tatsabbut dan tabayyun.
6.      Betapa banyak kemungkaran dapat dihilangkan… betapa banyak derita
dapat diselesaikan… betapa banyak pula bid’ah bisa dihentikan, semua itu dikarenakan ada kesatuan dan persatuan untuk menghadapinya melalui berbagai tulisan, semua ini terhitung sebagai pintu kebaikan, dan Allah SWT mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

7.      Celaka sekali seseorang yang telah meninggal dunia, sementara dosa-dosanya masih terus mengalir (“dosa jariyah”) ratusan tahun, lebih banyak dari itu atau kurang dari itu, dan dia pun di alam kubur sana, terus menuai adzab atas “dosa jariyah” itu, gara-garanya adalah
keburukan yang ia mulai dilanjutkan dan disebarluaskan oleh orang-orang sepeninggalnya… Allah SWT berfirman: “Dan Kami tuliskan apa yang telah mereka perbuat dan juga jejak-jejak mereka” (Yasin : 12). Oleh karena
itu, jika engkau terperosok dalam kemaksiatan, jadikanlah urusan kemaksiatanmu itu antara dirimu dan Tuhanmu sahaja (rahasiakan dan jangan publikasikan) dan janganlah engkau membantu orang lain dalam bermaksiat kepada Allah SWT.

8.      Semua perangkat dan “gadget” adalah sarana untuk mengujimu dalam urusan muraqabullah, maka, betapa agungnya rasa takut dan
pengagunganmu kepada Allah jika engkau dapat melampaui kemunkaran melalui “gadget” ini, meskipun dengan mudah kamu dapat mengikuti dan
menontonnya, dan meskipun kamu dapat menyendiri dengan “gadget” itu dengan tanpa pengawasan siapa-siapa. Jika engkau tetap dapat
menghadirkan muraqatullah, niscaya engkau termasuk orang-orang yang disifati oleh firman Allah SWT : “yaitu mereka-mereka yang takut kepada
Tuhan mereka saat mereka menyendiri”.

9.      Di hadapanmu terbuka pintu dakwah seluas-luasnya, sangat mungkin engkau menjadi seorang aktivis dakwah padahal engkau duduk manis di tempat tinggalmu, hanya dengan menggerakkan jempol tanganmu, maka, koleksilah berbagai hal yang bermanfaat, pilih hadits-hadits yang shahih, potong bagian-bagian dari klip yang berguna, lalu menyebarluaskannya, sebab, siapa saja yang memberi petunjuk kepada kebaikan,
maka ia mendapatkan pahala seperti pahala yang didapat oleh yang melakukannya.

10.     Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Sepatutnya seseorang tidak pelit, meskipun dengan dengan melakukan sedikit kebaikan, atau dengan
meninggalkan keburukan, betatapun kecilnya, sebab ia tidak mengetahui kebaikan mana yang akan menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT
kepadanya, atau keburukan mana yang akan menjadi sebab kemurkaan Allah.

Sumber : Dari sebuah postingan seorang kawan di suatu grup WhatsApps.

Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya.🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s