Menempatkan Bahagia dan Sedih pada Tempatnya, Haruskah dan atau Seharusnya?!


Bahagia dan Sedih
@Darut Tauhid, 16 Januari 2014

Kita harus bisa menempatkan bahagia dan sedih pada tempatnya.

Seharusnya kita sedih ketika kita tidak melaksanakan tahajud, karena tahajud hanyalah milik orang-orang pilihan.

Kita seharusnya sedih ketika bangun dari tidur, kita tak ingat apa-apa selain hanya tertidur pulas dan melewatkan waktu tahajud kita.

Kita tak perlu sedih ketika orang-orang menghina kita karena sesungguhnya kita itu lebih hina dari apa yang orang hinakan kepada kita.

Sedih dan bahagia kita, jangan terlalu difokuskan pada masalah dunia.

Bahagialah ketika kita mampu menangisi dosa-dosa yang kita miliki. Tangisan itu akan membuka hati-hati kita.

Bahagialah ketika kita mendapat rizki, dan kita ingat untuk menshadaqahkan rizki yang kita miliki.

Itu sedikit ‘share’ apa-apa yang disampaikan Aa Gym yang masih aku ingat. :”)

@nurlatifah_

Sumber : Sebuah postingan seorang kawan di suatu grup WhatsApp.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s