Seputar Program ODOJ (One Day One Juz), Syariat, Metodologi, dan Strateginya


Tentang ODOJ
Dari Ust. Nandar, Lc

Haji itu syariat, KBIH itu metodologi. Tabungan haji itu strategi. Haji itu butuh dalil, KBIH itu produk intelektual untuk mengorganisir ibadah haji, sedangkan Tabungan Haji adalah upaya seorang muslim untuk mewujudkan kesempatan beribadah haji.

Adapun seorang muslim memiliki niat buruk dalam ibadah hajinya, semisal karena berambisi mempunyai gelar “pak haji” di kampungnya atau ingin menduduki jabatan ketua takmir masjid yg mensyaratkan ia harus pernah berhaji,… maka ITU BUKAN DOMAIN KBIH untuk bertanggung jawab atas ketidaklurusan niatnya tersebut.

Itu adalah wilayah Allah. KBIH tidak mungkin mampu menjangkau niat ibadah anggotanya. KBIH hanya mampu mengorganisir zhahir dari seorang muslim untuk menunaikan haji, namun tidak bathinnya.

Mencari ilmu itu syariat, mndirikan lembaga pendidikan/institut/universitas/sekolah adalah metodologi, dan kurikulum pembelajaran adalah strategi.

Dengan analogi yg sama di atas, maka Lembaga pendidikan takkan mampu menjangkau wilayah niat (bathin) para pencari ilmu. Semisal : kuliah hanya ingin dapat gelar, prestise, pacaran, buang duit, dan lain-lain.

Lembaga Amil Zakat adalah syariat, asrama yatim piatu adalah metodologi, dan voucher sedekah adalah strategi.

Voucher sedekah Rp.10.000, Rp.50.000, Rp.100.000, atau Rp.1.000.000 adalah strategi untuk memfasilitasi seorang muzakki bersedekah. Penyelenggara voucher takkan mampu menjangkau kebersihan niat sang muzakki. Maka strategi voucher sedekah menjadi benar dalam konteks ini, dan menjadi salah apabila para panitianya hanya membatasi nominal sedekah atau memaksa muzakki untuk mengikuti program sedekah anak yatim piatu ini (meski rasanya hal itu hampir tidak mungkin terjadi).

Membaca Quran itu syariat, ODOJ itu metodologi, dan monitoring admin itu strategi.

Tilawah Quran itu butuh ilmu tajwid dan benarnya makhrojul huruf, serta niat lurus karena mengharap ridha Allah. Ini domain para Dai pengajar Quran dan Allah Swt, tentunya.

Realitanya adalah:
1. Ada sebagian umat Islam bisa baca Quran namun belum membiasakan rutin untuk membacanya.
2. Ada sebagian umat Islam belum bisa/lancar baca Quran, namun jadi senang kalo ramai-ramai ada saudara-saudaranya yang membacanya.

Dua golongan inilah yang mencoba diisi oleh pencetus ODOJ, dengan metodologi berupa sistem dan aturan. Maka jangan tuntut apa-apa yang memang bukan domain ODOJ. Kaidah “ibadah butuh dalil dan niat” kurang tepat dalam konteks ODOJ. Yang lebih tepat adalah kaidah “jika tak bisa memperbaiki semua, maka jangan tinggalkan sama sekali”.

Dan ODOJ telah mengambil ‘kekosongan’ itu (dua macam realita yang saya sebut di atas).

Niat lurus tilawah karena mengharap ridha Allah, bukanlah domain ODOJ, anggota ODOJ, atau pun adminnya. Itu wilayah Allah.

Bacaan Quran sesuai standar tajwid, ghorib, tahsin, tahfizh, dan makhraj huruf bukan wilayah ODOJ. Namun domain para Dai pengajar Quran, atau Dai yang tergabung dalam lembaga Quran.

Sumber : Sebuah postingan dari seorang kawan di suatu grup WhatsApp.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s