Memahami Siratan Makna Lagu Ilir-ilir (Makna dan Hikmahnya)


pembukaan-lir-ilir

Mereka yang dibesarkan di Jawa, khususnya Jawa Tengah pasti tak asing dengan tembang Ilir-ilir. Tembang  yang dicipta Sunan Kalijaga. Melodi yang lembut. Syair yang bermakna kuat menuai banyak simpati dan menjadikannya sebagai bagian dari folk music yang banyak digemari.  Termasuk anak-anak. Bagi mereka, Ilir-ilir dipahami sebagai tembang dolanan. Meski mungkin tidak begitu paham maknanya. Namanya juga anak-anak…!  Tetapi mereka, anak pedesaan hafal syairnya.

Lebih dari sekedar tembang dolanan, lagu ini dikenal pula sebagai lagu dakwah. Hingga banyak ditembangkan sebagai lagu religi. Tanyalah mbah google.  Akan banyak anda temukan streaming video nya. Versi religi atau campusari.

Tembang Ilir-ilir tidak lepas dari peran Sunan Kalijaga dalam mengakomodasi budaya lokal untuk mengembangkan ajaran Islam. Kegemaran rakyat Jawa akan seni musik, seni suara atau seni tradisional lain berupa pertunjukkan, menginspirasi sang wali melahirkan lagu ini.

Lagunya sempat dipopulerkan kembali oleh kelompok musik dakwah Kyai Kanjeng nya Emha Ainun. Sekalipun tak sepopuler lagu tombo ati, karya sunan Bonangyang melegenda dan banyak dinyanyikan sebagai shalawat tombo ati dalam dakwah para ustadz.

Lir-Ilir_poster

Berikut syair lagu ‘Ilir-ilir’ dan makna lagu yang mungkin bisa dipetik :

 

lir ilir lir ilir tandure wus sumilir / tak ijo royo royo / tak sengguh penganten anyar

 

(bangunlah, bangunlah,  tanaman sudah  bersemi / dan menghijau /bak pengantin baru)

 

Bangunlah… bermakna asosiatif untuk segera bangkit. Di pagi hari, maknanya bersimbol untuk mengawali hari yang baru. Bangun dari keterpurukan, kemalasan, atau kesalahan masa lalu. Memulai hari layaknya tanaman yang mulai bersemi (dan menghijau).  Mengawali dengan penuh gairah bak pengantin baru. Sekalipun sudah lama !

 

cah angon cah angon penekno blimbing kuwi / lunyu-luny penekno kanggo mbasuh dodot iro

 

(anak gembala, anak gembala panjatlah pohon belimbing itu / sekalipun licin (tetap) panjatlah, untuk membersihkan bajumu)

 

Kenapa pula ‘cah angon‘ ? Bukan ‘pak DPR’ atau ‘pak Menteri’? Pastilah bukan karena ‘pak DPR’ tidak pinter manjat pohon (belimbing). Atau karena mereka ‘pinternya’ manjat proyek?

 

Cah angon hakikinya bersimbol penggembalaan hati. Fitrah manusia untuk mengendalikan (hawa) nafsu. Bagi umat Islam bulan ramadhan ini menjadi puncak segala pengendalian itu. Untuk menggapai (buah) belimbing. Buah gerigi lima simbolisasi rukun Islam. Sekalipun harus dengan susah payah untuk mencapainya… dan licin jalannya. Tetapkanlah hati untuk menggapainya. Semuanya diperlukan  untuk membasuh dan mencuci (pakaian) diri, membasuh ketakwaan, membersihkan dari hawa nafsu atau kesalahan di masa lalu.

 

Dodot iro dodot iro kumintir bedah ing pinggir /Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore

 

(Bajumu, bajumu sudah koyak di samping / jahitlah, benahilah, untuk menghadap nanti sore)

 

Bajumu… simbolisasi dari imanmu, takwamu atau kesetiaanmu yang telah koyak.  Berlubang.  Maka dondomono.. jahitlah jrumatono.. benahilah dan rawatlahuntuk bekal saat nanti menghadap (Allah Swt).

 

mumpung padang rembulane /mumpung jembar kalangane / yo surak’o surak hiyo

 

(Mumpung bulan [masih] bersinar terang / mumpung [masih] banyak waktu luang /maka bersoraklah dengan sorak  iya)

 

Semua yang harus dicapai itu,   lakukanlah saat ini juga. Selagi pikiran masih terang….mumpung padang rembulane. Selagi banyak waktu luang… mumpung jembar kalangane. Dan jika ada yang mengingatkan. maka bersoraklah dengan sorakan iya..!

 

Mungkin itu bukan satu2nya makna tersirat dalam lagu Ilir-ilir.  Ada beberapa kajian yang memberi makna asosiatif yang agak berbeda. Tapi secara umum makna ini tidak jauh dari ajakan untuk bangkit dan membersihkan hati. Merevisi kesalahan diri. Makna yang  menarik banyak antusiasme musikus-sastra.

 

Carrol McLaughlin, profesor harpa dari Arizona University terkagum dengan tembang ini dan sering memainkannya. Maya Hasan, pemain Harpa Indonesia pernah mengatakan sangat ingin mengerti filosofi lagu ini. Mereka,  bersama Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah berusaha menerjemahkannya dalam musik Jazz pada konser musik ‘Harp to Heart‘.

 

Refleksi diri di akhir pekan ramadhan.

 

Sumber inspirasi tulisan:

 

http://bangpek-kuliahsastra.blogspot.com/2012/02/lirik-lagu-lir-ilir-sebuah-kajian.html

 

http://suryanaintan.blogspot.com/2013/05/makna-simbolik-dan-makna-konotatif.html

 

02.08.2013

Sumber Utama : Filsafat Kompasiana, 03 Agustus 2013

2 thoughts on “Memahami Siratan Makna Lagu Ilir-ilir (Makna dan Hikmahnya)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s