Souvenir Buku Panduan Nikah, Hijab, dan Keunikan Lainnya


Souvenir Buku Nikah

Karena lusa,saat hari Sabtu, 02 November 2013 nanti ada empat atau lima undangan pernikahan dari beberapa kawan yang saya kenal, maka pada kesempatan kali ini saya akan membagi pengalaman saya saat menghadiri undangan walimah salah seorang kawan saya sejak SMA. Acaranya terjadi saat hari Minggu kemarin, 27 Oktober 2013.

Ada beberapa hal unik dan sangat berkesan pada saat menghadiri undangan walimah teman saya tersebut.

Pertama, adanya pemisahan tempat walimah (resepsi) pernikahan antara ikhwan (pria) dan akhwat (wanita). Ini kali kedua saya menghadiri jenis walimah seperti ini (yang pertama saat di Bekasi setahun lalu). Menurut saya, hal ini sangat bermanfaat dan perlu dicontoh karena untuk menghindari adanya ikhtilat (percampuran interaksi langsung) antara ikhwan dan akhwat karena ajaran Islam sangat menekankan pentingnya hijab antara ikhwan dan akhwat untuk menghindari atau mengurangi interaksi yang berlebihan dan hal2 yang tidak diinginkan lainnya.

Kedua, souvenir buku panduan pernikahan. yang ini unik dan beda sendiri dari souvenir-souvenir pernikahan yang saya terima selama ini. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh : tidak perlu beli buku panduan nikah lagi alias gratis, kesan yang ada begitu mendalam dan tidak terlupakan, serta dapat menjadi motivasi untuk para tamu undangan yang belum menikah untuk segera menikah dan bagi yang sudah menikah agar segera menikah lagi, eh bukan,(hehe) maksudnya agar buku itu bisa dipinjamkan atau diberikan kepada kawan-kawannya atau kerabat-kerabatnya yang belum menikah. Selain itu, buku itu juga bisa menjadi warisan bagi anak-anaknya, cucu-cucunya, dan para generasi berikutnya agar bisa mengetahui dan memahami pentingnya dan tata cara pra, selama, dan pasca nikah yang baik dan benar serta yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

Ketiga, tempat pelaminan pengantin ikhwan dan pengantin akhwat dipisahkan juga dengan hijab (terbuat dari papan kayu atau mirip banner saat pameran-pameran), serta pengantin pria hanya didampingi oleh ayahnya sendiri dan ayah istrinya dan pengantin akhwat hanya didampingi oleh ibunya sendiri dan ibu suaminya. Positifnya, tidak ada ikhtilat antara para pengunjung pria dan pengunjung wanita. Negatifnya, jadi tidak bisa foto bareng sekaligus dengan pengantin pria dan pengantin wanita dengan kawan-kawan atau kerabat-kerabatnya.

Keempat, tidak perlu antri lama untuk mencicipi makanan utama dan jajanan-jajanan lainnya karena tempat antara para tamu pria dan tamu wanita dipisahkan oleh hijab dan itu (hidangan-hidangan walimahnya) sudah disediakan di tempat masing-masing walaupun masih satu gedung.

Kelima, tempat walimahnya di gedung serba guna di area kompleks militer di daerah Bandung Timur. Ini suasana yang tidak biasa karena berada di wilayah militer bukan di daerah sipil seperti biasanya. Suasananya tenang, asri, dan penuh harmoni serta lestari serta dekat dengan lahan hijau dan area persawahan serta kompleks perumahan militer begitu mendukung suasana walimah tersebut.

Demikianlah pengalaman saya saat menghadiri acara walimah pernikahan teman saya tersebut. Semoga dapat menginspirasi, berhikmah, dan bermanfaat. Ambil yang positifnya dan buanglah yang negatifnya. Sampai jumpa di postingan berikutnya.😉

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s