Materi Syukuran Wisuda Oktober 2013 Di Masjid Salman ITB,Minggu 13 Oktober 2013


Ada Syukwis Okt Salman ITB

Bismillahirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum Wr. Wb., Kawan2 semuanya. Pada kesempatan kali ini saya akan men-share notulensi untuk Materi Syukuran Wisuda Oktober 2013 Di Masjid Salman ITB,Minggu  13 Oktober 2013 dengan pemateri Pak Soeroyo, Pak Umam, dan Pak Mikrajuddin Abdillah. Berikut ini adalah penjelasannya.

A. Sesi Materi :

  1. Materi 1 dari Pak Soeroyo

Salah satu ajaran Islam adalah berniaga yang disampaikan juga oleh Rasulullah SAW. Dari Anas bin Malik juga bahwa umat Islam itu harus kuat, sehat, dan kaya, maka Insya Allah bisa mengubah sesuatu. Jadi, cobalah untuk berwirausaha.

Cobalah untuk mengisi kekosongan dalam ilmu dan mental. Saya (Pak Soeroyo) pernah mengikuti pelatihan di Jepang, mempelajari kultur karakter, etos kerja, dan sebagainya. Ada empat hal yang membuat orang-orang Jepang bekerja keras, yaitu “jizing” (gempa bumi), “tsunami”, “kajin” (api), dan “oyazi” (orang tua). Ada pula di teknik riset itu dipelajari prinsip-prinsip kepercayaan, janji, membangun sinergis, unit jaringan, dan sebagainya.

Saya bekerja di perusahaan “cleaning service” di daerah Karawang, Jawa Barat. Perusahaan ini bersaing dengan banyak perusahaan-perusahaan asing di bidang serupa. Ini adalah tantangan bagi kita bahwa mengapa perawatan barang-barang masih diserahkan ke pihak asing. Ini dapat menjadi peluang bagi kita.

2. Materi 2 dari Pak Umam

Sebagian besar alumni ITB itu ingin menjadi pegawai atau karyawan di perusahaan-perusahaan. Jadi, saat di dunia kerja nanti, kita harus bisa bekerjasama dengan orang-orang, terutama dengan teman-teman kita. Jagalah etika dan rasa hormat pada posisi kita masing-masng nanti. Misalnya, ada yang berposisi sebagai atasan (boss) dan bawahan. Jangan iri bila gaji atasan naik agar nanti gaji bawahan juga naik. Harus ada juga rencana ke depan.

Selain itu, kita buat juga “grand desain” untuk kita bila sudah berkeluarga nanti agar kita dan pasangan kita masing-masing dapat mengimplementasikannya ke anak-anak. Cara mendidik anak-anak juga kita desain sendiri. Harus ada investasi  untuk masa depan. Hal ini juga tercantum dalam Al-Qur’an. Ada juga cara hidup bermasyarakat yang baik, contohnya hidupkan suasana masjid dengan sholat berjamaah, ada majelis taklim, dan sebagainya dan “hidupkan A-Qur’an” di rumah masing-masing.

3. Materi 3 dari Pak Mikrajuddin Abdillah

Judul materinya adalah “Menjadi Akademisi Unggul”. Ada beberapa poinnya, yaitu sbb :

  1. Gantung cita-cita setinggi langit dan kejar (dengan halal dan bekerja lebih keras)
  2. Jadilah yang terbaik : ungguli semua rekan yang ada.

–          Latih dan kerja lebih banyak

–          Berkorban lebih besar

Anda akan menang terhormat

3. Jadilah yang pertama

Yang pertamalah yang akan dikenang sejarah

4. Cari kekurangan atas capaian orang sebelumnya.

Misalnya dalam merancang penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya dengan topic yang sama atau mirip.

5. Jangan pernah putus asa atau menyerah.

Jangan pikirkan kapan selesainya, lakukan terus hingga :

–          Anda berhasil

–          Anda tidak mungkin melakukan lagi

Bagaimana karir sebagai akademisi?

–          Di awal-awal Anda tidak akan makmur? Bisa,ya, bisa tidak.

–          Kebanyakan orang-orang perlu waktu 10 tahun lebih untuk mulai mapan.

–          Kemapanan hidup sebenarnya bergantung pada standar yang kita gunakan

Umumnya :

–          Orang sukses dalam bidang apa pun adalah orang yang telah melewati jatuh bangun atau kesulitan atau kegagalan bertahun-tahun.

Ada sejumlah pilihan profesi atau pekerjaan yang bisa kita pilih : dosen, peneliti, teknisi, dan sebagainya. Jadi, bekerjalah dengan senang, sesuai “passion”, hidup ini tidak susah-susah amat. Investasi juga ke depannya, khususnya buat pensiun.

B. Sesi Tanya Jawab :

  1. Dari panitia :
    1. Apakah yang terpenting dilakukan setelah wisuda?

Jawaban :

(1)    Dari Pak Soeroyo :

Sepakat bahwa dari penelitian sebuah badan dunia bahwa nilai (IP atau IPK) itu berada di peringkat ke-14 atau ke-15 yang menentukan kepantasan masuk dunia kerja. Urutan lima besarnya mulai dari peringkat pertama s.d kelima adalah : kejujuran, mental, komitmen, etika, dan sifat berjuang.

Sarannya, datangilah alumni-alumni kampus yang sudah berhasil, tanya jawab cara-caranya, banyak belajar lagi, magang, dan sebagainya. Yang berhasil ajak yang belum berhasil, perluaslah jaringan, dan untuk bersinergi.

Bagi yang sudah biasa berorganisasi itu sudah ada arahannya.  Berbagai organisasi membuat talenta keberanian untuk menentukkan hidup sendiri. Banyaklah bersosialisasi agar kita terkatrol lebih cepat.

Kita harus cepat bergerak, nasib kita ditentukkan oleh kita sendiri, dan jangan lupa di tiap saat kita harus berdoa, InsyaAllah, ikhtiar kita cepat terwujud.

(2)    Dari Pak Umam :

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya, maka lapangkan silaturrahim. Maka, cepatlah bersilaturrahim dengan orang lain dan juga bekerjalah, maka Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.  (dari suatu ayat dalam Al-Qur’an).

(3)    Dari Pak Mikra

Carilah pekerjaan itu. Namun, janganlah bawa nama besar ITB, jadilah orang biasa. Coba bekerjalah dari nol (sebenarnya itulah salah satu keunggulan lulusan ITB). Contohnya : Orang-oran Indonesia tidak bisa membuat tempe yang bagus dari kedelai lokal. Inilah salah satu peluang kita.

Cobalah “buang nama besar ITB”. Cobalah lebih mandiri dan akomodasi kebutuhan masyarakat banyak. Jangan hanya perhatikan perusahaan-perusahaan besar. Jangan hanya memperhatikan bahwa kita hanya dapat gaji besar, mobil mewah, dsb. Cobalah buat agar kita lebih bermanfaat, berorientasi ke luar, berorientasi ke luar kota-kota besar dan mengembangkan industri-industri kecil dan menengah di kota-kota kecil dan desa-desa.

2. Bagaimana tanggapan tentang orang yang pekerjaannya tidak sesuai dengan bidangnya?

Jawaban :

(1)    Dari Pak Mikra

80 % sarjana kampus pada umumnya tidak bekerja pada bidangnya. Cobalah belajar dari ilmu-ilmu lainnya juga. Fenomena pindah-pindah juga ada di luar negeri.

(2)    Dari Pak Umam

Saya lulusan Fisika , tetapi tidak pernah bekerja di bidang Fisika. Saya bekerja di logistik Merpati. Saya menjadi guru ngaji terus.

(3)    Pak Soeroyo

Tadi ada pemateri yang bernama Mas Furqon yang lulusan FT dan sekarang menjadi ustadz di sebuah TV swasta.

Di Indonesia banyak menghasilkan SDM-SDM muda yang produktif, berbeda dengan yang  di luar negeri, khususnya di negara-negara maju. Maka, rebutlah peluang, ambil kesempatan, dan bila ingin menjadi hebat, maka segala profesi itu ambil tetapi ukurlah dengan kemampuan kita. Kita pun harus bersilaturrahim yang akan membawa rezeki, dan bangun rasa saling percaya.

3. Bagaimana kita mensyukuri atas apa yang telah kita capai dan bagaimana kita bersikap ketika kita merasa kurang?

Jawaban :

(1)    Dari Pak Umam :

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Beramal shaleh lah. (QS Al-Ashr : 1-3). Banyak-banyak balas budi ke orang tua sebagai tanda syukur. (“Birrul walidain”), kemudian kepada kerabat juga. Bila sudah punya penghasilan, maka cepatlah berinfaq atau bersedekah, jangan menunggu kaya, karena dalam harta kita ada yang harus dikeluarkan selain zakat.

(2)    Dari Pak Mikra :

Intinya tak selamanya yang kita capai itu yang kita targetkan. Itu harus disyukuri (merasa cukup) karena kita tidak bisa dapatkan semua yang kita mau. Hal ini akan muncul dalam setiap pribadi masing-masing.

(3)    Dari Pak Soeroyo :

Cobalah untuk melihat hak orang lain, melihat hak masa depan, dan hak untuk makan. Cobalah untuk dating ke Karawang. Cobalah keluar-keluar untuk mencari-cari kerja dan mencari koneksi atau jaringan. Ada zona aman (tiap bulan dapat gaji) dan ada pula zona tidak aman. Khusus untuk zona yang tidak aman itu ada zona perlindungan pengusaha sebagai solusinya. Daerah Karawang sangat luas dan berprospek untuk industri.

2. Dari peserta :

  1. Ketika bekerja di “oil dan gas”, sama saja dengan mengeksplorasi sumber daya yang bekerja sama dengan asing? Dilihat dari segi kehalalannya?  (Dari Intan, Teknik Mesin)

Jawaban :

(1)    Dari Pak Mikra :

Ekspor bauksit mentah hasil dalam negeri ke luar negeri dan mengimpor produk jadinya (alumina) dari luar negeri itu membawa kerugian besar bagi NKRI sebesar 100 Triliun per tahunnya akibat hanya perbedaan sebelum dan setelah mengolahnya.

Hal yang sama terjadi juga pada perusahaan tambang emas dan tembaga di Papua (oleh Freeport) dan di Nusa Tenggara (oleh Newmont). NKRI pun rugi ratusan triliun per tahunnya. Padahal di kedua tempat itu dapat dihasilkan emas dan tembaga secara bersamaan. Kenapa itu diekspor? Ternyata ada logam-logam lain yang harganya lebih mahal.

Minyak bumi pun diekspor tanpa diolah dahulu oleh orang-orang local di NKRI. Padahal, haram hukumnya mengolah SDA local oleh asing di dalam negeri di Arab Saudi dan beberapa Negara di TImur Tengah. Cuma di NKRI yang terjadi sebaliknya.

Gaji dibuat besar agar rakyat atau lulusan dapat merasa nyaman bekerja di perusahaan2 asing itu, namun SDA habis karena dieksploitasi  besar-besaran. Padahal itu warisan untuk anak cucu kita.

Contohnya, di tempat pertambangan yang ditangani Newmont dahulu ada gunung yang penuh bahan tambang. Namun sekarang, itu sudah berubah menjadi lubang yang besar karena dieksploitasi besar-besaran oleh perusahaan itu. Ironisnya, rakyat pribumi di perkampungan atau di daerah pertambangan itu hidup dalam kemiskinan.

Selain itu, ada salah satu kesalahan lulusan teknik kimia yaitu tiadanya pabrik petrokimia (untuk mengolah minyak) oleh orang-orang pribumi di NKRI, padahal di negara Jepang, Thailand, dsb itu ada pabrik petrokimia.

(2)    Dari Pak Umam :

Generasi anak cucu kita akan menjadi generasi pembayar hutang NKRI karena tingginya angka hutang yang justru makin naik oleh pemerintah dan pihak2 lain di NKRI dari dulu s.d sekarang. Tanya pada diri sendiri.

(3)    Pak Soeroyo :

Dilematika, kuliah dibiayai rakyat, tetapi kerja di perusahaan asing yang “menjajah NKRI”. Janganlah berkhianat seperti itu. Jadilah wirausahawanyang baik dan berdasarkan aturan dan nilai agama.

2. Apakah yang dapat membuat Bapak dahulu mencoba bertahan “apply” beasiswa sampai 8 kali? (Dari Faiz, Teknik  Material khusus kepada Pak Mikra)

Jawaban :

Dari Pak Mikra :

Jangan lihat orang yang berhasil itu dikira berhasil pada kesempatan pertama. Bisa saja berkali-kali gagal, baru berhasil. Mental harus dilatih. Berbesar hati juga. Berpikirlah bahwa akhirnya ada saja yang terbaik bagi diri kita. Bisa saja yang terbaik itu bukan ditolak, tetapi ditunda.

Demikian notulensinya. Mohon maaf bila masih ada kesalahan dan kekurangannya. Semoga ini dapat bermanfaat bagi Kawan-kawan semuanya. Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih.🙂

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirrabilalamin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s