Kehidupan Urban Kalangan Supir Mobil Angkutan Dalam Kota di Kotamadya Bandung


Supir angkot memarkir angkotnya di terminal

Supir angkot memarkir angkotnya di terminal

Kehidupan urban di kalangan supir angkot sangat mewarnai kehidupan kota Bandung pada umumnya. Hal ini dikarenakan angkot memegang peranan yang sangat penting dan membantu transportasi di kota Bandung selain bis kota, mobil pribadi, sepeda motor pribadi, truk, dan berbagai kendaraan lainnya. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan peranan angkot adalah supirnya. Para supir angkot ini berasal dari berbagai daerah. Ada yang asli orang Bandung dan ada pula orang dari luar Bandung. Para supir pendatang ini bukan hanya berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat (Bogor, Ciamis, Garut, Tasikmalaya, dan sebagainya), melainkan juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia (Sumatera, Jawa, dsb).Di kotamadya Bandung banyak sekali jenis kalangan urban. Contohnya para pedagang, para buruh atau pekerja, para pengusaha, para supir angkutan kota (kendaraan umum : mobil dan bis), para pengamen, dan sebagainya. Mereka semua termasuk kaum urban. Sebagai istilah dalam kamus bahasa Indonesia, urban artinya berkenaan dengan kota; bersifat  kekotaan; orang yang berpindah dari desa ke kota. Sebagian besar kaum urban di perkotaan bersifat majemuk. Ada yang disebut urban tulen dan ada pula yang disebut urban pendatang. Urban tulen adalah orang kota yang memang lahir dan berkembang dewasa sejak lama di kota. Di lain pihak, urban pendatang adalah orang kota yang biasanya datang dari desa atau daerah perkampungan di luar kota. Kedua jenis urban ini juga berlaku untuk kalangan supir mobil angkutan dalam kota (angkot) di kotamadya Bandung yang menjadi topik khusus yang digarap oleh penulis saat ini.

Kebanyakan dari para supir angkot pendatang bisa hidup rukun dan bersahabat dengan para supir asli kota Bandung. Bahkan ada pula dari mereka yang bersahabat akrab dan saling berbagi apa yang mereka punya, seperti makanan, minuman, cerita, dan sebagainya. Hal ini sering dilihat oleh para penumpang angkot di mana seorang supir yang sedang bertugas mengendarai angkot berbicara akrab dengan salah seorang atau beberapa sahabat karibnya yang ternyata berprofesi juga sebagai supir angkot. Seorang atau beberapa temannya saat itu memang sedang tidak bertugas dan sedang naik angkot si supir itu. Bahkan ketika seorang atau beberapa temannya itu turun dan hendak membayar ongkos jasa angkot, si supir angkot itu justru menolak uang ongkos seorang teman atau rekan-rekannya dengan alasan menolong mereka. Dengan kata lain, mereka bisa gratis  naik angkot. Walaupun ada pula seorang teman atau rekan-rekannya yang memaksa membayar ongkos angkot, si supir angkot tetap menolak uang ongkos pemberian mereka. Akhirnya, seorang teman atau rekan-rekan si supir itu pun menyerah dan mengucapkan terimakasih kepada si supir sambil tersenyum dan berlalu sambil melambaikan tangan. Si supir pun tersenyum membalas perlakuan seorang teman atau rekan-rekannya itu. Tentu saja kejadian itu membuat terpana beberapa penumpang angkot itu yang melihatnya. Namun, tentu saja mereka tidak mungkin mendapat perlakuan istimewa tersebut karena si supir tidak mengenal mereka. Kejadian itu sudah lazim ditemukan pada sebagian angkot yang dinaiki oleh para penumpang angkot di kota Bandung.

Hal yang mengejutkan lainnya adalah pada sebagian supir angkot juga turut membawa keluarganya (istri dan anak) ketika mereka mengemudikan angkot. Biasanya istri dan anak mereka duduk di bagian depan kursi sebelah kursi pengemudi si supir angkot. Tujuan hal ini adalah agar mereka (supir angkot, istri, dan anak) bisa lebih leluasa berbicara dengan akrab dan juga gembira. Namun, terkadang hal ini menimbulkan kerugian bagi para penumpang yang ingin duduk di kursi depan. Akibatnya, para penumpang itu terpaksa duduk di kursi belakang angkot itu dengan wajah yang cemberut. Untungnya, para supir angkot hanya membawa keluarganya pada saat malam hari dan tiap akhir pecan (Sabtu atau Minggu). Hal ini bisa dimengerti karena pada hari Senin hingga Jumat khususnya pada jam-jam sibuk pada pagi hari dan sore hari, para penumpang yang naik angkot sangat banyak. Hal ini tentu saja menjadi berkah dan sumber rezeki bagi para supir angkot tersebut.

Ternyata para supir angkot itu berinteraksi dengan para sahabat karibnya dan atau keluarganya tidak hanya di dalam angkot yang mereka kemudikan, tetapi juga di tempat-tempat tertentu saat angkot itu berhenti sebentar (ngetem) atau berhenti total setelah seharian mengemudikan angkotnya. Tempat-tempat itu di antaranya adalah terminal angkot (resmi atau bayangan), warung makan, dan tempat perkumpulan khusus supir angkot (misalnya pangkalan angkot). Para supir angkot itu bisa berinteraksi dengan para sesama rekan satu profesinya dan atau keluarganya dengan begitu akrab. Kejadian ini sudah sering dilihat oleh para penumpang angkot, baik yang naik-turun angkot maupun yang berada dalam angkot. Tanggapan para penumpang angkot yang melihat kejadian itu pun beragam : ada yang tidak peduli,  ada yang senang, dan ada pula yang kesal karena angkot tidak kunjung beroperasi atau berjalan. Namun, apapun tanggapan para penumpang, mereka tetap harus menunggu angkot untuk berangkat.

Para supir angkot itu bekerja sungguh-sungguh demi memenuhi kebutuhan hidup mereka dan atau juga untuk keluarganya (bagi yang sudah berkeluarga). Hal itu dilihat dari sikap mereka yang baik (pada umumnya) terhadap para penumpang yang naik-turun dan yang ada dalam angkotnya. Mereka mengemudikan angkotnya dengan cepat namun tetap hati-hati demi keselamatan dirinya dan para penumpang dalam angkotnya. Mereka juga banyak yang mematuhi peraturan lalu lintas, seperti tidak memberhentikan penumpang sembarangan, tidak melaju saat lampu lalu lintas warna merah menyala, dan sebagainya. Mereka pun sudah biasa saat menghadapi berbagai rintangan saat mereka mengemudikan angkotnya. Contohnya, kemacetan yang sebentar atau lama di kota Bandung, para penumpang yang kadang sulit diatur, berurusan dengan polisi lalu lintas, dan sebagainya. Namun dalam hal ini, ada supir angkot yang sabar dan tenang menghadapi banyak rintangan itu dan ada pula yang temperamental dan mudah tersinggung menghadapinya. Hal itu terlihat sudah biasa bagi para penumpang angkot, khususnya yang sudah lama tinggal di kota Bandung.

Demikianlah uraian mengenai kehidupan urban di kalangan supir angkot di kota Bandung oleh penulis. Semoga kita semua bisa banyak mengambil hikmah dan pelajaran dari uraian ini. Ambil segala kebaikan yang sudah dicontohkan oleh para supir angkot dan buanglah segala keburukannya yang dilakuakan pula oleh mereka. Semoga uraian ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang ingin mengetahui atau pun yang ingin memperdalam wawasan seputar kehidupan urban kalangan supir mobil angkot di kota Bandung.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s