Banyak Kejutan dari diskusi Buku “Surat Malam untuk Presiden” di Landmark Braga, Bandung


Pak Acep dan buku yang ditulisnya, buku Surat Malam untuk Presiden

Pak Acep dan buku yang ditulisnya, buku Surat Malam untuk Presiden 

Diskusi buku yang berjudul Surat Malam  untuk Presiden ternyata menyimpan banyak kejutan yang tidak biasa di Landmark Braga,Bandung,Senin,3 Oktober 2012 lalu. Beberapa kejutan itu ternyata justru semakin membuat acara diskusi buku itu bermutu dan menambah daya tariknya.  Berikut ini  jenis kejutannya.

Kejutan pertama adalah penulis buku “Surat Malam untuk Presiden”. Buku ini ternyata ditulis oleh seorang dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bernama Acep Iwan Saidi. Beliau adalah dosen yang mengajar mata kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi di ITB bersama dosen lainnya bernama Jejen Jaelani. Kontan saja hal ini membuat sebagian peserta diskusi yang terdiri dari para mahasiswa mata kuliah itu kaget karena selama ini mereka belum pernah bertemu dosen mereka yang menjadi penulis buku itu dan yang mengajar mereka selama kuliah adalah dosen yang satunya lagi.

Kejutan kedua adalah para pembicara dan moderator pada diskusi buku “Surat Malam untuk Presiden” . Para pembicara ternyata merupakan teman akrab dan guru Acep Iwan Saidi dan moderatornya juga salah satu penggemar buku yang ditulis Acep Iwan Saidi. Para pembicara itu adalah Aat Suratin yang mendirikan sanggar “Rumah Nusantara” dan Tisna Sanjaya yang pernah memerankan tokoh Kabayan di sebuah stasiun swasta, Mereka berdua banyak beropini dan menganalisis buku  itu dengan santai namun serius. Moderatornya adalah Dhipa Galuh yang dapat membawa dan mengarahkan acara dengan baik walau disertai pula dengan kelucuan.

Kejutan ketiga adalah isi buku “Surat Malam untuk Presiden” yang berupa 501 status Facebook Acep Iwan Saidi yang banyak bercerita tentang kampung halamannya dan banyak kritik yang halus tetapi mengena kepada para penguasa negeri ini, khususnya kepada presidennya. Selain itu, kejutan lainnya adalah banyaknya komentar dan ekspresi “like this” yang ada di bawah masing-masing status beliau yang dimuat juga dalam buku itu. Buku ini direkomendasikan untuk dibaca karena isinya yang mengangkat tema kritik halus yang mengena yang biasanya sulit dipahami menjadi mudah dipahami dan enak untuk dibaca dan mudah diaplikasikan nilai-nilainya. Ada beberapa komentar yang keluar dari para pembicara terhadap buku itu.

“Buku ini adalah proses kreatif atau strategi budaya Acep Iwan Saidi yang dibagi dalam beberapa tahap : kegelisahannya terhadap desanya, lalu diunggah ke Facebook, dimanualkan atau dicetak menjadi buku, dan orang-orang yang membacanya dapat merenungi dan terinspirasi,” ujar Aat Suratin.

“Judul bukunya sudah tepat dan isinya surat tersurat malam atau nokturnal. Penulisnya sudah bisa memosisikan dirinya di ekosistem, menjaga akal sehatnya dan bisa menjadi teladan bagi para pembacanya dan umumnya bagi para masyarakat negeri ini, Indonesia,” timpal Tisna Sanjaya.

Kejutan keempat adalah banyak peserta diskusi yang bertanya yang unik dan aneh kepada para pembicara seputar buku “Surat Malam untuk Presiden”. Para pembicara menjawabnya dengan santai, serius, dan unik pula. Salah seorang pembicara bahkan membacakan sebuah puisi yang isinya intisari buku itu untuk menjawab pertanyaan semua peserta dan pembicaranya membagi-bagikan pisang raja gratis dengan cara melemparnya kepada para peserta dari atas panggung. Kontan saja ini membuat para peserta kaget namun tetap senang, Diskusi buku itu pun semakin semarak dengan cukup banyaknya pengunjung yang antusias menontonnya. Ada pula dialog unik dari salah satu peserta kepada penulis buku itu.

“Apakah Pak Acep tidak takut dipenjara karena menulis buku itu?,” tanya Arif Pandu.

“Justru bila saya tidak menulis buku itu, jiwa saya akan terpenjara untuk selamanya sepanjang hidup saya,” jawab Acep Iwan Saidi.

Kejutan kelima adalah para peserta yang bertanya dalam diskusi buku “Surat Malam untuk Presiden” mendapat masing-masing buku itu secara gratis di akhir acara diskusi itu. Selain itu, mereka pun bias meminta tanda tangan dan berfoto gratis dengan penulis, para pembicara dan  moderatornya. Sungguh pengalaman yang amat berkesan dan tidak terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s