Tikus dan Singa


Di sebuah hutan yang sangat lebat, hiduplah seekor singa. Di hutan itu pula, hidup tikus beserta teman-temannya. Suatu hari, tikus itu tengah bermain di atas sebuah batu. Tiba-tiba, ia terjatuh yang tanpa disadarinya menimpa muka singa yang sedang tidur. Singa yang merasa kenikmatan tidurnya terganggu menjadi sangat marah. Hati si tikus dicekam ketakutan yang teramat sangat dan merasa ajalnya segera tiba. Dengan suara memohon kepada singa untuk memaafkan dan membebaskannya.

Melihat makhluk kecil dan tak berdaya di genggamannya, terbitlah rasa kasihan di hati singa. Ia pun menyuruh tikus segera pergi dari hadapannya sebelum pikirannya berubah. Dengan sepenuh hati, si tiukus mengungkapkan rasa terimakasih yang tiada terkira atas budi baik singa dan berjanji akan membalas kebaikannya. Maka, pulanglah si tikus sambil hatinya memuji kebaikan hati singa.

Hari-hari berlalu setelah peristiwa itu. Hingga suatu hari, singa terjebak pada sebuah perangkap. Tikus yang mengetahui petaka yang menimpa singa itu segera teringat pada kebaikannya serta perbuatannya yang terpuji.

Tikus pun mendatangi singa dan berkata, “Aku datang kepadamu untuk memutuskan ikatanmu.”

Singa menjawab, “Wahai sobat, cukuplah kekuatanku. Sesungguhnya, aku akan mampu menyelesaikan kesulitran ini.”

Tikus berkata lagi, “Rupanya, tiada guna bagimu petuah, yang berguna bagimu adalah pertolongan yang nyata.”

Kemudian, tikus mulai menggigiti tambang-tambang perangkap itu untuk segera menyelamatkan singa. Tiada henti tikus mencurahkan segenap usahanya hingga sempurna dengan hasil yang menggembirakan. Maka, singa berlari setelah terbebas dari perangkap itu. Ia sangat berterimakasih kepada tikus karenanya. Ia berkata, “Sesungguhnya, kesabaran dan ketekunan itu bermanfaat seperti tidak bermanfaatnya menentang.”

Kadang-kadang, seorang manusia mencapai kepandaian yang tidak tercapai oleh kegagahan dan kekuatan. Sesungguhnya, barang siapa yang berbuat baik, ia akan menemukan balasannya cepat atau lambat.

Hikmah :

Siapa yang membangun gedung para hartawan kalau bukan kuli bangunan? Siapa yang menjadi pelayan dalam istana-istana pejabat? Siapa yang menjadiu karyawan rendah di kantor-kantor pengusaha? Jika tidak ada petani yang rela berpeluh dan bergubal dalam lumpur untuk menanam padi, bagaimana seorang presiden atau menteri bisa memakan nasi? Maka, sungguh tak tahu dirilah orang yang merasa dirinya hebat dan tak memerlukan orang lain.

Pustaka :

Kurniawati, Nia & Dedeh Sri Ulfah. 2007. Fabled Wisdom for modern life. Bandung : Progressio (Group Syaamil). Halaman : 4-7.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s