BAYANGAN GERHANA BULAN : Bagian 9 (Bulan Bercahaya Sempurna)


bulan purnama

Bulan bersinar sempurna

 

“Iya,tidak apa-apa,San. Paman juga minta maaf karena salah paham. Hanya saja apa?”, selidik pamanku.

Dengan keberanian dan ketakutan yang bercampur,aku meneruskan kalimatku.

“Hanya saja aku seperti merasakan firasat buruk saat bayangan gerhana bulan itu ada,Paman. Entah kenapa bisa begitu.” Aku mengutarakan yang ingin ku katakan.

“Mungkin saja itu adalah kegelisahan khusus yang didatangkan oleh Allah untukmu via bayangan gerhana bulan. Kegelisahan itu adalah suatu sinyal yang mengingatkanmu dan perasaan yang tidak nyaman dalam keadaan yang buruk atau kurang baik agar kamu bisa kembali ke keadaan yang lebih baik yang diridhai-Nya. Selain itu, hal ini juga agar kita bisa lebih bersiap-siap dan bersabar dalam menghadapi keadaan yang seburuk apa pun. Mungkin akan ada cobaan yang akan kita hadapi dan alami untuk menguji sejauh mana tingkat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Serahkanlah segala sesuatunya pada Allah setelah kita berdoa dan berikhtiar semaksimal mungkin. Percayalah, Allah tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hamba-Nya dan Dia akan menolong kita dengan kekuatan dan pertolongan-Nya dari arah yang tidak kita sangka-sangka,bahkan dalam keadaan yang paling nadir sekalipun.”,jelas pamanku panjang lebar.

Aku seperti terbius mendengar penjelasan pamanku tadi. Aku menganggukan kepalaku. Aku merasa bersalah karena tidak mengingat dan melaksanakan hal ini.                             “Ampunilah dosaku,Ya Allah.”,bisik hatiku yang terdalam. Lalu aku menanggapi penjelasan paman tadi.

“Benar sekali,Paman. Terimakasih atas penjelasan dan nasihatnya. Aku akan berusaha selalu mengingatnya dan mempraktekannya dalam kehidupanku.” tanggapku.

“Iya,sama-sama,San. Teruslah berjuang di jalan Allah selama kehidupan ini hingga akhir hayat. Berusahalah agar kita semua bisa meraih ridha Allah supaya dengan ridha-Nya kita bisa masuk ke dalam surga-Nya.”,nasihat pamanku lagi.

“Aamiin.  Aku akan berusaha semampu yang aku bisa. Insya Allah.”,tanggapku lagi.

Ya, itulah salah satu nasihat dan pelajaran yang ku dapat dari paman dahulu. Aku lalu mengelap keringat dingin dengan handuk kecil di meja kecil dekat tempat tidur. Lalu,aku berdoa kepada Allah agar diberi segala sesuatu yang terbaik, kemudahan, kekuatan, ketenangan, dan keberkahan dalam hidup ini. Setelah itu,aku turun dari tempat tidur dan menuju ke arah jendela seraya membuka gorden jendelanya. Rupanya,malam ini bulan bercahaya sempurna alias sedang bulan purnama dan tidak ada gerhana bulan dan bayangannya. Cahaya bulan pun masuk menerangi kamarku dengan begitu indahnya. Entah kenapa,hatiku seolah menjadi ringan.

Aku lalu memandangi foto lama dan figuranya yang kuambil dari meja kecil tadi. Foto ayah,ibu,kakak,dan aku sekitar 25 tahun yang lalu. Saat itu,kami begitu bahagia menjalani kehidupan ini. Walaupun kini,kami berada pada tempat yang berbeda, aku masih bisa merasakan kebahagiaan itu meskipun banyak penderitaan yang ku rasakan sejak kecil hingga aku sudah dewasa. Ya,itu saat aku kehilangan mereka bertiga. Rasanya ada rasa kehilangan dan luka yang sangat dalam. Itu sangat ku rasakan saat menziarahi kuburan mereka bertiga lima tahun yang lalu. Aku berdoa kepada Allah dengan doa kebaikan yang sama pada perjalanan dengan mobilku sesaat sebelum terjadinya kecelakaan. Aku pun berdoa kepada-Nya bila terjadi gerhana bulan dan bayangannya supaya aku dilindungi oleh-Nya dan tidak ada malapetaka lagi. Selain itu, aku juga berdoa agar aku diberi kesempatan untuk menikah agar memperoleh keluarga yang baru. Permohonan menikahku ini bertujuan agar bisa mengingatkan dan mempraktekkan ajaran Islam dan hal-hal yang baik pada keluargaku nanti supaya kami bisa mendapat ridha-Nya agar bisa menjalankan menyempurnakan separuh dien, mendapatkan keberkahan dalam menjalani rumah tangga yang sakinah,mawaddah, dan warrahmah, dan bisa selamat serta bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin.

(Bersambung)

Cerita ini hanya fiktif semata. Bila ada kesamaan nama tokoh dan kejadian di dalamnya, itu hanya kebetulan belaka.

Kamar rumah (Bandung), 31 Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s