BAYANGAN GERHANA BULAN : Bagian 8 (Pulih dari Masa Kritis)


Dalam alam bawah sadarku, ketika nyawaku sedang dicabut oleh malaikat maut,tiba-tiba datanglah malaikat lain utusan Allah yang mengabarkan bahwa kematianku tidak jadi saat ini. Malaikat maut pun lalu membatalkan tugasnya. Malaikat lain tersebut lalu berkata kepada ruh atau nyawaku bahwa ruhku akan diberi kesempatan lagi kembali ke dunia. Namun itu disertai persyaratan bahwa ruh dan tubuhku harus beribadah yang tekun kepada Allah, berbuat baik kepada diri sendiri,sesama manusia dan lingkungan, dan dilarang berbuat maksiat kepada-Nya dan semua makhluk ciptaan-Nya. Ruhku menyanggupinya. Maka ruhku itu dikembalikan lagi ke tubuhku di dunia atas izin dan perintah Allah.

Aku pun terbangun dari tidurku pada malam ini. Keringat dingin banyak bercucuran sebagai tanda aku begitu ketakutan atas mimpiku tadi. Mimpi yang sama saat aku koma  dahulu. Namun,akhirnya aku berhasil melewati masa-masa kritisku selama satu minggu di rumah sakit. Tangan dan kakiku yang patah sudah digips. Tulang iga dan rusukku yang retak juga sudah diobati dan diberi pin untuk menjaga kekuatannya. Luka-lukaku juga sudah diobati. Aku menjalani masa pengobatan dan pemulihan yang lama untuk menyembuhkan lukaku secara fisik,sekaligus juga menyehatkan batinku yang sangat terguncang karena telah mendengar penyebab kematian ayah dan ibuku serta langsung kehilangan kakakku yang meninggal dalam malam yang tragis itu. Malam hari dengan gerhana bulan dan bayangannya.

Akhirnya aku pulih total secara fisik sekitar sepuluh bulan kemudian. Akan tetapi, batinku yang sangat terluka ini butuh waktu yang lebih lama untuk sembuh karena kejadian buruk yang menimpa keluargaku sebelumnya.  Untunglah,keluarga pamanku mau menampungku untuk tinggal bersama mereka. Selama itu, mereka dengan sabar menghiburku  dan membimbingku dalam ajaran agama Islam. Kami beribadah, mengaji, mentoring, dan melakukan hal-hal yang positif bersama-sama. Mereka mengajarkan kebaikan dan keteladanan kepadaku,terutama paman.

“San,percayalah,bahwa segala kebahagiaan dan penderitaan, takdir baik dan takdir buruk itu sudah ditentukan oleh Allah.”,terang pamanku.

“Tapi,bayangan gerhana bulan itu selalu ada saat kematian ayah, ibu, dan kakakku. Apakah aku tidak boleh percaya pada hal ini,Paman?”. Aku masih memprotes.

“Lalu,apa kamu percaya  bahwa gerhana bulan dan bayangan itu sebagai penyebab kematian mereka bertiga?”, tanya pamanku dengan nada yang tajam.

“Maaf,maksudnya bukan begitu,Paman. Aku tetap percaya bahwa Allah sudah memutuskan takdir itu. Hanya saja….” Aku ragu untuk meneruskan kalimatku.

(Bersambung)

Cerita ini hanya fiktif semata. Bila ada kesamaan nama tokoh dan kejadian di dalamnya, itu hanya kebetulan belaka.

Kamar rumah (Bandung), 31 Mei 2012

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s