BAYANGAN GERHANA BULAN : Bagian 6 (Kenyataan Pahit dari Masa Lalu)


eye

 

Kakakku menceritakan kisah bayangan gerhana bulan dan malapetaka yang terjadi olehnya. Aku benar-benar takut,merinding, dan bersedih selama mendengar jalinan kata-kata kakakku itu. Ternyata kedua orang tuaku meninggal dunia saat terjadinya gerhana bulan di malam hari saat aku masih berusia 3 tahun. Waktu itu kakakku berumur 7 tahun.

“Saat itu,ayah kita sedang mengejar ibu kita yang kabur dari rumah karena pertengkaran mereka yang semakin parah. Penyebabnya karena ayah sangat sedikit memiliki waktu luang di rumah karena padatnya jadwal pekerjaan di perusahaannya di luar kota. Setelah sekian lama berkejaran, akhirnya ayah berhasil menangkap ibu di tengah jalan dan menggiringnya ke rumah. Namun,di tengah hujan yang sangat deras, ibu takut begitu memikirkan nasibnya kelak karena sikap ayah sangat keras. Ibu juga kehilangan semangat hidupnya, sehingga beliau nekad melompat ke depan truk yang lewat. Namun,ayah mendorong ibu sehingga malah ayah yang tertabrak truk. Truk itu rupanya langsung kabur dan tidak mau bertanggung jawab. Saat itu memang terjadi gerhana bulan dan bayangannya membuat area itu menjadi lebih gelap”,jelas Kak Rio.

Aku menangis sejadi-jadinya selama mendengar ceritanya.

“Lalu,apa yang terjadi setelah itu,Kak?”, tanyaku dengan sedihnya.

“Ibu yang melihat hal itu pun langsung shock berat,menangis, dan langsung memeluk ayah yang sudah berlumuran darah dan mengalami pendarahan berat di sekujur tubuhnya. Rupanya cinta dan kasih sayang ibu pada ayah telah kembali dan malah lebih besar lagi. Ayah yang sudah dalam kondisi kritis memaksakan diri untuk tersenyum dan tegar melihat ibu yang resah itu.  Ibu meminta maaf kepada ayah dan ayah mengangguk dengan susah payah untuk memaafkannya. Setelah itu,rupanya ayah tersenyum dan langsung meninggal di pelukan ibu. Ibu pun lalu menangis sejadi-jadinya. Ambulans terlambat datang karena terkendala hujan yang lebat.”, jelas Kak Rio lagi.

“Lalu,tahu dari mana Kakak tentang cerita ini?,” aku bertanya lagi sambil terisak. Jujur,aku masih terpukul mendengar kenyataan pahit dari masa lalu itu.

“Aku tahu dari ibu yang menceritakan hal ini kepadaku setelah ayah dimakamkan keesokan harinya. Beliau juga lebih bersedih lagi setelah menemukan surat terakhir dari ayah yang ditemukan di saku jas kerja ayah. Isinya bahwa ayah benar-benar menyesal atas kesalahannya yang telah lalu, meminta maaf, dan akan member kompensasi waktu luang dan bertamasya bagi keluarga kita saat akhir pekan nanti. Rupanya ayah ingin memberi kejutan,namun ibu sudah terlanjur salah paham dan terjadilah tragedi kematian ayah. Selain itu,rupanya ayah sudah menyimpan sejumlah uang yang sangat besar yang disimpannya di bank. Uang itu diperoleh dari hasil kerja keras ayah selama bekerja dan lembur di sebuah perusahaan pertambangan di luar kota. Jadi,kita bisa sekolah hingga perguruan tinggi juga karena adanya uang,selain tentu saja atas izin Allah yang menjawab doa dan usaha kita.”,jelas Kak Rio lagi.

Aku semakin sedih mendengar kenyataan yang sebenarnya. Lalu aku bertanya lagi.

“Tapi kenapa Kakak tidak menceritakan hal ini padaku. Aku juga berhak tahu.”,protesku dengan penuh emosional.

“Maafkan Kakak. Tapi,San…”

“Sudah,Kakak memang tidak mau mengerti perasaanku.”

“Dengarkan dulu penjelasan Kakak. Waktu itu kamu masih kecil dan mentalmu belum stabil. Ibu yang memintaku untuk merahasiakan kematian ayah karena itu diakibatkan pertengkaran mereka. Ibu khawatir bila nanti akhirnya kamu menjadi pribadi yang tidak stabil karena mengetahui hal yang sebenarnya. Itu,karena ibu sudah mengetahui perkembangan mentalmu sejak lahir.  Jadi,Ibu hanya memberitahukanmu bahwa ayah masih bekerja dalam waktu yang lama. Kamu pun menurut. Aku akhirnya memberitahumu bahwa ayah wafat di tempat kerja karena kecelakaan kerja saat kamu sudah remaja. Kamu begitu sedih waktu itu sehingga aku tidak bisa memberitahukan yang sebenarnya padamu. Maafkan aku,San. Semuanya demi kamu.”,jelas Kak Rio seraya meminta maaf.

Aku langsung terdiam dan hanya bisa mengangguk pelan sebagai tanda mengerti dan memaafkan kakakku itu.

“Lalu bagaimana dengan Ibu,Kak? Apa penyebab beliau wafat?” ,tanyaku lagi.

“Ibu wafat juga pada malam gerhana bulan dan bayangannya tepat enam bulan setelah kematian ayah. Ibu meninggal saat mengendarai sepeda motornya saat baru pulang membeli kebutuhan kita sehari-hari. Ibu dan sepeda motornya tertabrak oleh mobil yang melaju kencang dari arah yang berlawanan namun keluar dari jalur yang semestinya. Nyawa ibu sudah tak tertolong lagi ketika dalam perjalanan ke rumah sakit. Aku pun sangat sedih pada waktu itu sehingga tidak tega menyampaikannya padamu. Paman yang berempati pada keadaanku lalu membawaku pindah ke rumahnya di kota ini. Itu pun karena rumah kita juga terbakar habis pada malam itu karena terjadi korsleting listrik. Aku selamat karena sedang bersama paman di luar rumah. Sedangkan kamu sudah berada di rumah paman karena ibu menitipkanmu di sana selama ibu bekerja. Maafkan aku lagi,San. Aku sudah banyak membohongimu.”,jelas Kak Rio seraya menyesal dan meminta maaf kepadaku.

Tangisku tambah meledak mendengar hal itu. Ya,aku pun lagi-lagi  hanya mengangguk pelan sebagai tanda memaafkan kakakku. Aku menangis hingga pelampiasanku hilang.

“Maafkan aku juga,Kak. Karena aku terlalu emosional,salah sangka, dan tidak mau mengerti.” Akhirnya aku luluh juga. Tangisanku sudah mulai mereda.

“Iya,tidak apa-apa,San. Kita harus bersabar menghadapinya. Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kepada-Nya  kita akan kembali. Insya Allah, Dia akan memberikan gantinya.,” nasihat Kak Rio.

“Benar,Kak. Mari kita bersama-sama berdoa untuk mereka di alam barzah.”,ajakku.

“Baiklah,San.” Kak Rio menyetujuinya.

(Bersambung)

Cerita ini hanya fiktif semata. Bila ada kesamaan nama tokoh dan kejadian di dalamnya, itu hanya kebetulan belaka.

Kamar rumah (Bandung), 31 Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s