BAYANGAN GERHANA BULAN : Bagian 10 (Keluarga Baru)


keluarga baru

Keluarga baru

 

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarku diketuk.

“Masuk saja.”, kataku agak keras.

Pintu kamarku dibuka dan seorang anak kecil berlari ke arahku, lalu memelukku dengan riang gembira.

“Papa. Luna dan Mama sudah pulang dari belanja. Luna kangen banget dengan Papa,” kata Luna, anak bungsuku yang lucu itu.

“Ya, Papa juga kangen dengan Luna.”,jawabku sambil memeluknya. Istriku pun tiba-tiba masuk ke dalam kamarku.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb,Papa.”,kata istriku seraya meraih tanganku.

“Wa’alaikumussalam Wr. Wb.,Mama.”,jawabku sambil membiarkan tanganku dicium istriku dengan takzim.

“Ada apa,Ma?”,tanyaku.

“Tadi Luna begitu senang melihat bulan purnama di langit malam ini. Apa Papa mau ikut kami untuk menemaninya?”,jawab istriku seraya bertanya balik kepadaku.

“Baiklah. Tempatnya di mana?,” Aku mengiyakan seraya balik bertanya.

“Di halaman depan rumah. Tsuki dan Diana sudah mempersiapkan teleskop mini di sana. Mama juga akan ikut. Ayo,Papa. Nanti ketinggalan.”,ajak istriku.

“Ayo,Papa.”,rengek Luna manja.

“Ayo.”,timpalku seraya menggandeng tangan kanan Luna, sedangkan tangan kirinya digandeng oleh istriku menuju ke halaman depan.

Oiya,aku belum bercerita tentang istriku. Namanya Hasna Takasugi. Dia adalah wanita Indonesia keturunan Jepang. Ketika itu,aku baru saja selesai berziarah di makam ayah, ibu, dan kakakku. Tiba-tiba saja mataku bertatapan dengan mata seorang penziarah wanita yang kini menjadi istri saya. Rupanya dia baru saja menziarahi makam ayahnya. Sorot matanya begitu indah dan bercahaya mirip cahaya bulan di malam hari. Aku tahu dia habis menangis dilihat dari matanya. Ketika itu,hanya sesaat saja,aku bisa merasakan keindahan kedua bola matanya. Itu,karena kami berdua sama-sama malu dan langsung menundukkan pandangan dan langsung pulang.

Namun, selama perjalanan pulang, aku tidak bisa melupakan keindahan bola matanya. Bahkan hingga terbawa mimpi. Setelah kejadian itu, kami jadi selalu bertemu di tempat pemakaman ketika kami berziarah. Awalnya, kejadian yang sama terulang lagi seperti pada pertemuan pertama. Akan tetapi,karena kami selalu beradu pandang secara tidak sengaja, pada pertemuan berikutnya,kami pun berkenalan dan saling menukar kartu nama. Astaghfirullah, karena terlalu sering menatap matanya meski secara tidak sengaja. Kami juga sering berbagi cerita satu sama lain. Tentu saja,kami hanya bisa berbicara bebas bila kami membawa saudara atau teman kami karena kami tidak ingin berdua-duaan. Walaupun kami tidak pernah berikrar untuk pacaran, rupanya seringnya kami berinteraksi menimbulkan benih-benih cinta dalam hati kami. Firasatku lalu mengatakan bahwa aku harus melamarnya. Aku pun memberitahukan maksudku ini kepadanya. Dia pun meminta waktu satu minggu untuk mendiskusikan hal itu dengan keluarga besarnya. Aku pun melakukan hal yang  sama dengan keluarga besarku.

Seminggu kemudian, acara lamaran pun dilangsungkan. Aku berdebar-debar menantikan jawabannya atas lamaranku. Akhirnya setelah melalui pembicaraan dan diskusi yang agak alot,dia menerima lamaranku. Alhamdulillah. Hal ini disetujui pula oleh keluarga besarnya dan keluarga besarku. Tidak lama kemudian, kami pun menikah dan dalam 6 tahun masa pernikahan hingga sekarang,kami telah dikaruniai 3 orang anak. Si sulung, Tsuki (anak laki-laki), anak tengah, Diana dan anak bungsu,Luna. Nama ketiganya memiliki makna bulan atau yang berhubungan dengan bulan. Itu karena aku sangat mengagumi dan terinspirasi bulan yang bersinar sempurna karya Allah Sang Maha Kuasa.

Akhirnya, impianku untuk memiliki keluarga baru terwujud juga. Semoga doaku tentang tujuan pernikahan yang sudah kusebutkan sebelumnya dapat dikabulkan oleh Allah. Aamiin.

Kembali ke masa sekarang. Saat ini aku sekeluarga sedang mengamati bulan purnama yang indah di langit mlam ini. Tiba-tiba Luna berkata sesuatu.

“Papa, bulannya sangat indah,ya.”,kata Luna dengan lugunya.

“Ya, kamu benar sekali,Nak.”,kataku mengiyakan.

Di usiaku yang ke-29 tahun ini,aku sangat bahagia sekaligus sedih. Bulan yang bercahaya indah saat ini dan gerhana bulan serta bayangannya dahulu mewarnai sepanjang jalan kehidupanku yang penuh suka dan duka yang saling berganti. Namun,banyak hikmah yang bisa diambil dari keduanya agar kita senantiasa menjalani hidup ini dengan baik,lurus, dan sesuai dengan ajaran agama.

(Tamat)

Cerita ini hanya fiktif semata. Bila ada kesamaan nama tokoh dan kejadian di dalamnya, itu hanya kebetulan belaka.

 

Kamar rumah (Bandung), 31 Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s