BAYANGAN GERHANA BULAN : Bagian 2 (Dialog Dua Orang Bersaudara)


dialog aja

 

BYUURRR…

Seketika aku terbangun dari tidurku. Aku tercekat kaget. Rupanya wajahku sudah basah kuyup terkena siraman air dingin. Aku gelagapan menahan dinginnya air itu.

“Siapa yang iseng begini,sih?”,pekikku kesal. Aku melirik ke arah kakak lelakiku yang sedang tertawa cekikikan di belakangku.

“Kak Rio,ini sudah keterlaluan! Aku basah kuyup,nih.”,protesku sambil kesal.

“Wah,maaf. Maaf, Sandi. Tadi kamu lelap banget,sih. Sulit bener buat ngebanguninnya. Tapi,lagipula cuma wajahmu aja yang basah. Badanmu ga basah,kan?”,tanggap kakakku,Kak Rio,seraya melemparkan handuk kecil ke arahku.

“Ya,tapi,kan ada cara lain untuk bangunin aku.”,kataku masih dengan nada protesnya. Aku pun menangkap handuk kecil pemberian Kak Rio dan mengeringkan wajah dan rambutku dengan handuk kecil itu.

“Tadi Kakak udah bangunin kamu dengan cara lain yang lebih halus. Tadi udah Kakak bunyikan jam weker sekeras-kerasnya di dekat telingamu,tapi kamu masih belum bangun. Terus,tadi Kakak udah namparin muka kamu dan mengguncang-guncangkan tubuh kamu,tapi kamu masih tidur aja.  Lalu,Kakak percikan air dingin ke wajahmu dan kamu masih belum bangun juga.Ya,terpaksa Kakak guyur dengan air dingin. Akhirnya kamu bangun,deh.” Jawab Kak Rio kalem,sambil menahan tawa.

“Tapi,itu terlalu kejam,Kak.” Aku masih merengut dan tidak terima.

“Tapi,kamu kan baru bisa bangun kalau sudah diguyur air. Pengalaman yang sudah-sudah memang seperti itu,kan?” kata Kak Rio. Rupanya dia bisa juga membela diri.

“Oh,begitu,ya.” Rupanya aku mulai tersadar kesalahanku itu. Aku mulai memaafkan kelakuan kakakku. Walaupun dia ser iseng begitu,tetapi sebenarnya dia berhati baik. Bahkan

“Baiklah. Saya maafkan Kakak. Tapi jangan diulangi lagi,ya.”,kataku melunak.

“Terimakasih,Sandi. Kamu juga jangan ketiduran lagi,ya. Kita ‘kan ada agenda malam ini.”,kata Kak Rio menjelaskan.

“Iya,Kak. Oiya,kita ada agenda apa?,” tanyaku penasaran.

“Lho,kamu katanya mau mengantarku ke toko buku Serba Ada? Aku mau membeli paket buku novel science fiction Bayangan Gerhana Bulan favorit calon istriku nanti. Kamu juga mau beli ensiklopedia Seputar Gerhana Bulan dan Bayangannya,kan?” Kak Rio mengingatkanku.

Mendengar hal itu, aku kaget.

“Benar juga,Kak. Sekarang sudah jam berapa,ya?”, tanyaku dengan cepat.

“Sekarang sudah jam 21.30,San. Kamu sudah tertidur dari jam 19.30 tadi. Apa kamu sudah shalat Isya?”,jawab Kak Rio seraya bertanya.

“Sudah,Kak. Tadi sebelum pulang ke rumah,saya shalat dulu di masjid dekat kantor. Kakak sudah shalat Isya?,” jawabku seraya bertanya.

“Sudah juga,San. Tadi Kakak shalat di masjid kompleks perumahan kita. Oh,ayo cepat kita berangkat. Toko buku Serba Ada tutup jam 22.00.”,ajak Kak Rio.

“Baiklah,Kak. Ayo kita berangkat dengan mobilku.”,seruku cepat.

“Oke,San.” tanggap Kak Rio segera.

Singkat cerita,kami pun pergi keluar rumah untuk membeli buku di toko buku Serba Ada. Kak Rio yang mengemudikan mobilku karena aku masih agak kelelahan dan masih sedikit mengantuk. Kami,dua orang bersaudara, yang semuanya laki-laki, memang harus kompak seperti ini. Kami harus saling membantu dan melengkapi sejak kedua orang tua kami meninggal satu decade yang lalu. Aku masih melihat ke arah luar jendela mobil. Gerhana bulan itu hanya tersisa tiga perempatnya saja, namun masih menimbulkan bayangan mencekam di malam minggu itu. Aku hanya bisa merinding melihat itu. Apakah sesuatu yang penuh duka akan terjadi malam ini?

(Bersambung)

Cerita ini hanya fiktif semata. Bila ada kesamaan nama tokoh dan kejadian di dalamnya, itu hanya kebetulan belaka.

Kamar rumah (Bandung), 29 Mei 2012

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s